aku buat menjelang ultah papa ke 77 tahun 2012 lalu atas permintaan papa, untuk dimuat dalam bukunya Hadia Nosomi?2. namun saat buku itu terbit dan menjadi suvenir pada perayaan hut 77 papa, ternyata naskah ini terluput.
hari ini 18 oktober 2013, mestinya menjadi peringatan 10 tahun pernikahan papa dengan tante Ris. namun setahun lalu papa pergi dan tidak pernah merayakannya lagi. demi mengingat betapa papa mengapresiasi naskah ini, dan untuk tidak menjadi tulisan yang "terbuang sayang", izinkan aku berbagi di sini...
i miss u, pa..
yourdede
NYARI ISTERI BUAT AYAH
Rumah dinas tua di Kampus IIP itu terlihat semakin kusam
saja, semenjak mama tiada tahun 1996. Tapi aku tak
lagi tinggal di sana. Aku sangat bersyukur karena mama sempat melihatku
menikah, tepat setahun sebelum kepergiannya. Masih ada lima saudaraku yang
tersisa menemani papa di rumah, namun satu persatu kemudian pergi dengan
pasangannya masing-masing. Papa memang telah berpesan bahwa setiap anak
yang menikah harus siap meninggalkan rumah dan hidup mandiri.
Pada 2001 akhirnya pernikahan ketujuh dalam keluarga kami
terlaksana. Kami tinggal berpencar, empat keluarga di wilayah Tangerang
(Karawaci, Cipondoh, Serpong dan Bintaro), yang lain di Tebet, Cinere, dan
paling jauh di Amerika Serikat. Papa hanya ditemani seorang keponakan dan seorang
pembantu.
Sesungguhnya aku tak tega melihat papa sendiri. Dengan
pribadinya yang introvert dan serius aku bisa bayangkan bagaimana dia menjalani
hari demi hari. Kami ingin papa segera pensiun dan menghabiskan waktu dengan
cucu-cucunya, bergiliran tinggal di rumah-rumah kami. Tapi rupanya papa belum
ingin menjadi tua. Papa masih sangat produktif berkarya di usianya yang ke 61
saat ditinggal mama. Namun tentu saja semua tak pernah sama lagi. Papa sering
terlihat letih dan kesepian..
Pernah papa cerita tentang beberapa perempuan yang
mendekatinya setelah menduda. Umumnya mereka kelompok perempuan yang
mengharapkan pria mapan untuk menggantungkan hidup, karena menurutku secara
fisik papa bukanlah pria yang menarik. Lucu juga menyaksikan perempuan yang
mengejar pria tua seperti papa, dengan tujuh anak dan beberapa cucu. Papa tidak
supel dan cenderung kaku, amat jarang bersosialisasi apalagi menikmati hidup
dengan bersenang-senang. Hari-harinya hanya disibukkan oleh urusan kantor dan
pekerjaan. Berkomunikasi dengan anak-anak lebih sering melalui email dan sms.
Aku tak pernah membayangkan papa bisa jatuh cinta lagi.
Berawal dari kisah
kasih yang mengharu biru layaknya “the beauty and the beast” (begitulah
kira-kira lukisan papa tentang kisah cintanya yang happy ending) yang
mempertemukannya dengan mama di tahun 50an, lalu 35 tahun hidup bersama
membangun keluarga, dari kesederhanaan menuju kemapanan, hingga perpisahan kelu
yang tak terelakkan.. semua ingatan itu tak akan lekang dimakan waktu.
Meski kami semua berharap papa tetap bertahan dengan cinta
yang utuh pada mendiang mama yang disebutnya “bidadariku”, namun kami menyadari
bahwa tidak mudah papa melewati hari demi hari. Di tengah kesibukannya sebagai ilmuwan, dan
kesehariannya yang beranjak senja, papa ingin ada orang yang menyambutnya di
rumah, memasak untuknya, merawatnya jika sakit, menemaninya menyongsong hari
tua dan menerima jatah pensiunnya. Mama yang puluhan tahun berjuang membangun
ekonomi keluarga kami memang tak sempat menikmati pensiun papa yang tentu menjadi
sukacitanya di hari tua.
Ya, papa membutuhkan pendamping. Ada sejumlah perempuan yang
mencoba membangun komunikasi dengannya. Namun tidak satupun yang mampu merebut
simpati papa. Maklumlah, papa risi mengulang masa pacaran di usianya yang
kepala enam. Papa bahkan cenderung kaku dan tidak punya inisiatif untuk memberi
dirinya kesempatan mengenal seorang perempuan.
Inisiatif itu justru datang dari suamiku Pram. Melalui
koleganya yang seorang pendeta kami
mengenal Siti Ristina (aku kemudian memanggilnya tante Ris), seorang janda cantik
dengan dua anak lelaki dan satu cucu. Usianya terpaut 20 tahun lebih muda dari
papa. Aku terkesan melihat perempuan ini. Fisik dan penampilannya terlihat
apik. Maklumlah, dia berprofesi sebagai instruktur senam sehingga terlatih
merawat tubuh dan penampilannya. Di samping itu dia terlihat aktif
bersosialisasi. Aku sempat meragukan kemungkinan dia bersedia mendampingi papa,
melihat besarnya perbedaan antara karakter dan kesehariannya dengan papa. Papa
nyaris tidak ambil peduli pada lingkungan di luar keluarga intinya. Dunia papa hanya pekerjaan, rumah dan
kepentingan anak cucunya.
Papa tidak punya banyak waktu untuk berbagai penjajakan dan
pendekatan meski setuju untuk kami kenalkan dengan tante Ris. Akhirnya akulah
yang berperan melakukan penjajakan itu.
Aku berusaha memaparkan dengan sejujurnya kepada tante Ris, siapa dan
bagaimana keberadaan papa. Aku tidak mau menutupi bahwa papa sangat tidak
romantis, tidak suka berbasa basi, tidak suka menghadiri acara-acara, dan lebih
memilih menghabiskan waktu dengan bekerja. Bahwa papa bukanlah mencari pengganti mama, karena mama tidak
akan tergantikan. Papa hanya membutuhkan seorang teman yang mau bersamanya di
rumah, bukan wanita karir atau kaum sosialita. Hanya seorang ibu rumah tangga
biasa.
Tante Ris sepertinya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk
menyatakan siap mendampingi papa. Mungkin karena selama ini dia memang berharap
untuk bisa berumah tangga kembali. Kedua anaknya sudah dewasa dan mandiri. Di
tahun 2003 itu tante Ris sudah sembilan
tahun menjanda, sedangkan papa tujuh tahun menduda. Namun proses penjajakan itu
tidak sepenuhnya berjalan mulus. Maklumlah, papa tidak punya cukup waktu untuk
dihabiskan bersama tante Ris demi pengenalan yang lebih dalam. Apalagi tempat
tinggal mereka terpaut cukup jauh, papa di Cilandak sedangkan tante Ris di Kreo
sehingga harus melalui banyak titik kemacetan.
Aku cukup surprise saat papa mengambil keputusan untuk segera
menikahi tante Ris. Keputusan papa tidak serta merta didukung keenam saudara
kandungku. Mereka ingin papa mengambil waktu yang lama untuk berpikir ulang dan
lebih mendalami pribadi tante Ris. Namun aku memahami pikiran papa yang
menganggap penundaan hanya membuat papa lelah dan tidak cukup efektif
memperdalam hubungan mereka. Hubungan persaudaraan di antara kami bahkan sempat
renggang. Kami berdebat dan berpolemik cukup tajam dan rumit. Aku merasa sangat
terpojok seolah-olah aku memaksa papa untuk menerima tante Ris dan segera
menikahinya.
Akhirnya pada 18 Oktober
2003 papa dan tante Ris menikah di gereja BNKP Jakarta. Aku yang membuat disain
kartu undangannya. Pengundang adalah keluarga kami bertujuh ditambah dua anak
tante Ris yang menjadi adik-adik kami, karena keduanya lebih muda dari adik
bungsuku. Meski tidak sepenuhnya plong, kami anak-anak semua hadir dan
mendukung papa. Aku sesungguhnya tidak berani bermimpi bahwa pernikahan mereka
akan indah, mengingat besarnya perbedaan latar belakang di antara mereka. Aku
hanya berharap setidaknya mereka mau selalu berusaha saling menerima dengan rasa
syukur, sehingga usia senja mereka menjadi lebih bermakna.
Kini setelah delapan tahun berlalu, perbedaan itu masih tetap
ada dan menganga, karena upaya menyatukan dua perbedaan sejatinya adalah
kemustahilan, hanya kasih Tuhanlah yang bisa menjembataninya.
Menjelang usia papa ke 77 tahun 2012 ini, Papa punya 11 cucu
dari kami, ditambah tiga cucu dari anak-anak tante Ris. Kadang-kadang papa curhat tentang kehidupan dan kegiatannya
melalui email. Memang pergumulan selalu ada dalam kehidupan. Papa pun sering merasa lelah dan jatuh sakit.
Fungsi pendengarannya sudah jauh berkurang, meski kegiatan dan produktifitasnya
terus berjalan. Karenanya kami lebih sering berkomunikasi melalui sms, email
dan media chatting tertulis lainnya.
Aku selalu berharap papa dan tante Ris ikhlas menerima jalan
hidup mereka bersama dan lebih mengupayakan untuk dapat menikmati kehidupan
rumah tangga yang saling memberi support, karena kenyamanan hidup di masa senja
adalah dengan hati dan pikiran yang teduh…
Selamat
Ulang Tahun Pa…
selamat
menikmati usia indah… Tuhan memberkati.
debora ndraha – januari 2012 (revised)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar