Jumat, 18 Oktober 2013

18 Oktober 2013

tulisan  ini semacam "dibuang sayang"
aku buat menjelang ultah papa ke 77 tahun 2012 lalu atas permintaan papa, untuk dimuat dalam bukunya Hadia Nosomi?2. namun saat buku itu terbit dan menjadi suvenir pada perayaan hut 77 papa, ternyata naskah ini terluput.

hari ini 18 oktober 2013, mestinya menjadi peringatan 10 tahun pernikahan papa dengan tante Ris. namun setahun lalu papa pergi dan tidak pernah merayakannya lagi. demi mengingat betapa papa mengapresiasi naskah ini, dan untuk tidak menjadi tulisan yang "terbuang sayang", izinkan aku berbagi di sini...

i miss u, pa..
yourdede



NYARI ISTERI BUAT AYAH

Rumah dinas tua di Kampus IIP itu terlihat semakin kusam saja, semenjak mama tiada tahun 1996. Tapi aku tak lagi tinggal di sana. Aku sangat bersyukur karena mama sempat melihatku menikah, tepat setahun sebelum kepergiannya. Masih ada lima saudaraku yang tersisa menemani papa di rumah, namun satu persatu kemudian pergi dengan pasangannya masing-masing. Papa memang telah berpesan bahwa setiap anak yang menikah harus siap meninggalkan rumah dan hidup mandiri.

Pada 2001 akhirnya pernikahan ketujuh dalam keluarga kami terlaksana. Kami tinggal berpencar, empat keluarga di wilayah Tangerang (Karawaci, Cipondoh, Serpong dan Bintaro), yang lain di Tebet, Cinere, dan paling jauh di Amerika Serikat. Papa hanya ditemani seorang keponakan dan seorang pembantu.

Sesungguhnya aku tak tega melihat papa sendiri. Dengan pribadinya yang introvert dan serius aku bisa bayangkan bagaimana dia menjalani hari demi hari. Kami ingin papa segera pensiun dan menghabiskan waktu dengan cucu-cucunya, bergiliran tinggal di rumah-rumah kami. Tapi rupanya papa belum ingin menjadi tua. Papa masih sangat produktif berkarya di usianya yang ke 61 saat ditinggal mama. Namun tentu saja semua tak pernah sama lagi. Papa sering terlihat letih dan kesepian..

Pernah papa cerita tentang beberapa perempuan yang mendekatinya setelah menduda. Umumnya mereka kelompok perempuan yang mengharapkan pria mapan untuk menggantungkan hidup, karena menurutku secara fisik papa bukanlah pria yang menarik. Lucu juga menyaksikan perempuan yang mengejar pria tua seperti papa, dengan tujuh anak dan beberapa cucu. Papa tidak supel dan cenderung kaku, amat jarang bersosialisasi apalagi menikmati hidup dengan bersenang-senang. Hari-harinya hanya disibukkan oleh urusan kantor dan pekerjaan. Berkomunikasi dengan anak-anak lebih sering melalui email dan sms.

Aku tak pernah membayangkan papa bisa jatuh cinta lagi.

 Berawal dari kisah kasih yang mengharu biru layaknya “the beauty and the beast” (begitulah kira-kira lukisan papa tentang kisah cintanya yang happy ending) yang mempertemukannya dengan mama di tahun 50an, lalu 35 tahun hidup bersama membangun keluarga, dari kesederhanaan menuju kemapanan, hingga perpisahan kelu yang tak terelakkan.. semua ingatan itu tak akan lekang dimakan waktu.

Meski kami semua berharap papa tetap bertahan dengan cinta yang utuh pada mendiang mama yang disebutnya “bidadariku”, namun kami menyadari bahwa tidak mudah papa melewati hari demi hari.  Di tengah kesibukannya sebagai ilmuwan, dan kesehariannya yang beranjak senja, papa ingin ada orang yang menyambutnya di rumah, memasak untuknya, merawatnya jika sakit, menemaninya menyongsong hari tua dan menerima jatah pensiunnya. Mama yang puluhan tahun berjuang membangun ekonomi keluarga kami memang tak sempat menikmati pensiun papa yang tentu menjadi sukacitanya di hari tua.

Ya, papa membutuhkan pendamping. Ada sejumlah perempuan yang mencoba membangun komunikasi dengannya. Namun tidak satupun yang mampu merebut simpati papa. Maklumlah, papa risi mengulang masa pacaran di usianya yang kepala enam. Papa bahkan cenderung kaku dan tidak punya inisiatif untuk memberi dirinya kesempatan mengenal seorang perempuan.

Inisiatif itu justru datang dari suamiku Pram. Melalui koleganya yang seorang pendeta kami mengenal Siti Ristina (aku kemudian memanggilnya tante Ris), seorang janda cantik dengan dua anak lelaki dan satu cucu. Usianya terpaut 20 tahun lebih muda dari papa. Aku terkesan melihat perempuan ini. Fisik dan penampilannya terlihat apik. Maklumlah, dia berprofesi sebagai instruktur senam sehingga terlatih merawat tubuh dan penampilannya. Di samping itu dia terlihat aktif bersosialisasi. Aku sempat meragukan kemungkinan dia bersedia mendampingi papa, melihat besarnya perbedaan antara karakter dan kesehariannya dengan papa. Papa nyaris tidak ambil peduli pada lingkungan di luar keluarga intinya.  Dunia papa hanya pekerjaan, rumah dan kepentingan anak cucunya. 

Papa tidak punya banyak waktu untuk berbagai penjajakan dan pendekatan meski setuju untuk kami kenalkan dengan tante Ris. Akhirnya akulah yang berperan melakukan penjajakan itu.  Aku berusaha memaparkan dengan sejujurnya kepada tante Ris, siapa dan bagaimana keberadaan papa. Aku tidak mau menutupi bahwa papa sangat tidak romantis, tidak suka berbasa basi, tidak suka menghadiri acara-acara, dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan bekerja. Bahwa papa bukanlah  mencari pengganti mama, karena mama tidak akan tergantikan. Papa hanya membutuhkan seorang teman yang mau bersamanya di rumah, bukan wanita karir atau kaum sosialita. Hanya seorang ibu rumah tangga biasa.

Tante Ris sepertinya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyatakan siap mendampingi papa. Mungkin karena selama ini dia memang berharap untuk bisa berumah tangga kembali. Kedua anaknya sudah dewasa dan mandiri. Di tahun 2003 itu tante Ris  sudah sembilan tahun menjanda, sedangkan papa tujuh tahun menduda. Namun proses penjajakan itu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Maklumlah, papa tidak punya cukup waktu untuk dihabiskan bersama tante Ris demi pengenalan yang lebih dalam. Apalagi tempat tinggal mereka terpaut cukup jauh, papa di Cilandak sedangkan tante Ris di Kreo sehingga harus melalui banyak titik kemacetan.

Aku cukup surprise saat papa mengambil keputusan untuk segera menikahi tante Ris. Keputusan papa tidak serta merta didukung keenam saudara kandungku. Mereka ingin papa mengambil waktu yang lama untuk berpikir ulang dan lebih mendalami pribadi tante Ris. Namun aku memahami pikiran papa yang menganggap penundaan hanya membuat papa lelah dan tidak cukup efektif memperdalam hubungan mereka. Hubungan persaudaraan di antara kami bahkan sempat renggang. Kami berdebat dan berpolemik cukup tajam dan rumit. Aku merasa sangat terpojok seolah-olah aku memaksa papa untuk menerima tante Ris dan segera menikahinya.

Akhirnya pada 18 Oktober 2003 papa dan tante Ris menikah di gereja BNKP Jakarta. Aku yang membuat disain kartu undangannya. Pengundang adalah keluarga kami bertujuh ditambah dua anak tante Ris yang menjadi adik-adik kami, karena keduanya lebih muda dari adik bungsuku. Meski tidak sepenuhnya plong, kami anak-anak semua hadir dan mendukung papa. Aku sesungguhnya tidak berani bermimpi bahwa pernikahan mereka akan indah, mengingat besarnya perbedaan latar belakang di antara mereka. Aku hanya berharap setidaknya mereka mau selalu berusaha saling menerima dengan rasa syukur, sehingga usia senja mereka menjadi lebih bermakna.

Kini setelah delapan tahun berlalu, perbedaan itu masih tetap ada dan menganga, karena upaya menyatukan dua perbedaan sejatinya adalah kemustahilan, hanya kasih Tuhanlah yang bisa menjembataninya.

Menjelang usia papa ke 77 tahun 2012 ini, Papa punya 11 cucu dari kami, ditambah tiga cucu dari anak-anak tante Ris. Kadang-kadang  papa curhat tentang kehidupan dan kegiatannya melalui email. Memang pergumulan selalu ada dalam kehidupan.  Papa pun sering merasa lelah dan jatuh sakit. Fungsi pendengarannya sudah jauh berkurang, meski kegiatan dan produktifitasnya terus berjalan. Karenanya kami lebih sering berkomunikasi melalui sms, email dan media chatting tertulis lainnya.

Aku selalu berharap papa dan tante Ris ikhlas menerima jalan hidup mereka bersama dan lebih mengupayakan untuk dapat menikmati kehidupan rumah tangga yang saling memberi support, karena kenyamanan hidup di masa senja adalah dengan hati dan pikiran yang teduh…

Selamat Ulang Tahun Pa…
selamat menikmati usia indah… Tuhan memberkati.

debora ndraha – januari 2012 (revised)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar